Kisah, Solusi dan Tantangan Terberat Menjadi Mompreneur di Tengah Ketimpangan Gender
Ilustrasi Berita--vritimes.com
Kekuatan lain yang dimiliki para mompreneur adalah literasi digital dan kemampuan mereka dalam membangun komunitas. Riset dari The AsianParent menunjukkan bahwa lebih dari 90% ibu menggunakan media sosial setiap hari, dengan Instagram sebagai platform utama.
BACA JUGA:Anemia Semasa Hamil Berdampak pada Penurunan IQ Anak, Begini Penjelasannya
Delapan dari sepuluh ibu mengandalkan rekomendasi sesama orang tua dalam mengambil keputusan pembelian. Ini membuktikan bahwa komunitas ibu bukan hanya menjadi ruang dukungan emosional, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi kolektif yang signifikan.
Kekuatan komunitas ini pula yang menjadi salah satu keberhasilan Sheyla dalam mengembangkan BeeMe. Ia mendirikan komunitas “Ibuku Bahagia,” sebuah gerakan pemberdayaan ibu-ibu yang kini memiliki lebih dari 18.500 pengikut di Instagram. Komunitas ini telah menginisiasi berbagai kegiatan, mulai dari acara komunitas yang melibatkan brand sponsorship hingga kelas digital seperti pelatihan affiliate marketing.
Menutup kisahnya, Sheyla menegaskan pentingnya kepemimpinan diri dan ketangguhan mental dalam perjalanan sebagai mompreneur.
“Meskipun aku perempuan, aku harus bisa me-manage dan memimpin diri aku dengan baik. Jadi gak gampang menyerah, karena (perjuangan) ini buat aku. Yang kedua, resilience atau ketangguhan. Karena aku tahu perjalanan aku sampai sini tuh gak mudah,” tutup Sheyla.
Perjalanan inspiratif para pendiri brand lokal seperti Sheyla Taradia (BeeMe) dan Devy Natalia (BohoPanna) bisa disimak lebih lengkap dalam seri konten “That’s Mad!” di kanal YouTube Hypefast. “That’s Mad!” menjadi ruang untuk membagikan kisah-kisah autentik dari para pendiri brand lokal yang tak hanya membangun bisnis, tapi juga harapan dan masa depan—untuk keluarga, komunitas, dan Indonesia.
Temukan konten lifestyle.postingnews.id menarik lainnya di Google News
- Source
- Tag
- Share
-