JAKARTA, PostingNews.id - Banyak di antara umat Islam yang menganggap wirid dan dzikir selepas salat sama. Padahal, ada perbedaan yang fundamental antara keduanya.
Meski mirip, perbedaan wirid dan dzikir sebenarnya cukup jelas bila ditelaah secara mendalam, terutama jika merujuk pada penjelasan para ulama.
Makna Dzikir
Menurut Ibnul Qayyim dalam kitab Al Wabilush Shoyyib, dzikir (الذِّكْر) secara bahasa berarti "ingat".
Dalam konteks syariat, dzikir berarti menyebut dan mengingat Allah melalui ucapan tertentu, seperti tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (laa ilaaha illallah).
Dzikir juga mencakup membaca Al-Qur’an, berdoa dan bahkan mengingat kebesaran Allah dalam hati.
Adapun dalil tentang keutamaan membaca dzikir tercantum dalam Al-Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 41:
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
Ważkur rabbaka kaṡīraw wa sabbiḥ bil-‘asyiyyi wal-ibkār.
Artinya: “Dan ingatlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali Imran: 41).
Rasulullah SAW bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Matsalul-ladzī yażkuru rabbahu wal-ladzī lā yażkuru rabbahu matsalul-ḥayyi wal-mayyit.
Artinya: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak, seperti orang hidup dan mati.” (HR. Bukhari).
Makna Wirid